• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Rabu, 31 Maret 2021

PTK Penelitian Tindakan Kelas Matematika Kelas 3 SD Doc

 



BAB I



PENDAHULUAN



 



A.          
Latar Belakang Masalah



Di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 disebutkan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan ujung tombak kemajuan
bangsa.



 



Peningkatan kualitas pendidikan akan mempengaruhi sumber
daya manusia, karena dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan maka sumber
daya manusia juga akan meningkat dan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Peningkatan kualitas pendidikan terutama pendidikan di sekolah tidak terlepas
dari proses pembelajaran.



 



Pendidikan yang berkualitas dapat menghasilkan sumbe daya
manusia yang berkualitas dan produktif. Hal tersebut mendorong suatu negara
yang maju dan pesat dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Indonesia apabila
ingin menjadi negara yang maju dan pesat maka ciptakanlah pendidikan yang
berkualitas.



 



Dalam pendidikan proses pembelajaran membutuhkan peran
guru yang terlaksana dengan baik dalam melaksanakan kewajibannya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran. Kewajiban guru yaitu merencanakan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembelajaran (Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen). Apabila peran guru tersebut tidak terlaksana dengan baik, maka
hasil pembelajaran tidak akan optimal.



 



Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya mutu
pendidikan, antara lain keterlibatan dan peran guru dalam proses pembelajaran.
Kegagalan siswa adalah salah satu cermin kegagalan guru dan sekolah dalam
menjalankan fungsi dan perannya. Meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana
diharapkan masyarakat, diperlukan inovasi-inovasi yang bersifat kreatif dan
kooperatif sehingga tercipta suasana belajar dan pembelajaran yang kondusif.
Guru memiliki peran yang ampuh baik sebagai fasilisator, motivator maupun
sebagai pengelola pembelajaran, sehingga tujuan peningkatan mutu pendidikan
akan segera terwujud.



 



Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum dan
pembelajaran merupakan sangat penting dan saling membutuhkan. Apa yang dideskripsikan
dalam kurikulum harus memberikan petunjuk dalam proses pembelajaran di kelas.
Seiring dengan perkembangan zaman perkembangan baru dalam bidang teknologi
informasi, ternyata berdampak terhadap perubahan dan peran tanggung jawab guru.
Oleh karena itu, setiap guru bukan hanya perlu memahami hakikat dan makna
pembelajaran beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya, akan tetapi di tuntut
penguasaan sejumlah kompetensi untuk dapat mengaplikasikannya di lapangan dalam
rangka proses pembelajaran siswa, terutama pada bidang atau mata pelajaran
matematika.



 



Dengan semangat KTSP seharusnya pembelajaran matematika
lebih berkembang dari segi konsep mengajar, teori-teori belajar, dan strategi
pembelajarannya. Seiring berkembangnya teknologi, pembelajaran matematika
justru lebih terarah dengan baik. Dengan menggunakan alat peraga pembelajaran
seperti alat peraga bangun batar, bisa menghadirkan benda-benda untuk dijadikan
contoh dalam bentuk benda nyata, gambar atau animasi yang lebih menarik dan
berkesan, sehingga pembelajaran bisa dirasakan siswa lebih menyenangkan dan
tidak membosankan. Selain itu juga mempercepat proses pembelajaran.



 



Menurut Aisyah (2007: 1.5) belajar matematika adalah
“belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat
di dalam materi yang dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep
dan strukturstruktur matematika itu”. Siswa harus dapat menemukan keteraturan
dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan
intuitif yang sudah dimiliki siswa. Dengan demikian siswa dalam belajar,
haruslah terlibat aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur yang
tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang
harus dikuasainya.



 



Mata pelajaran matematika adalah salah satu mata
pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan dan merupakan bagian
integral dari pendidikan nasional dan tidak kalah pentingnya bila dibandingkan
dengan ilmu pengetahuan lain. Matematika juga merupakan ilmu dasar atau “basic
science
”, yang penerapannya sangat dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ironisnya matematika dikalangan para pelajar merupakan mata
pelajaran yang kurang disukai, minat mereka terhadap pelajaran ini rendah
sehingga penguasaan siswa terhadap mata pelajaran matematika menjadi sangat
kurang.



 



Dalam pembelajaran matematika, terutama di kelas rendah
banyak hal atau faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa dan hal-hal
yang sering menghambat untuk tercapainya tujuan belajar. Karena pada dasarnya
setiap anak tidak sama cara belajarnya, demikian pula dalam memahami
konsep-konsep abstrak. Melalui tingkat belajar yang berbeda antara satu dengan
yang lainnya maka guru yang baik adalah guru yang mampu mengajar dengan baik,
khususnya ada saat menanamkan konsep baru. Salah satu alat peraga pembelajaran
yang diharapkan mampu memberikan bantuan pemecahan masalah dalam upaya
meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan sistem pembelajaran
yang menggunakan alat peraga bangun datar khususnya pada mata pelajaran
matematika.



 



Menurut Wijaya dan Rusyan (1994: 137) dalam Herlina
(2006) media berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi
belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar.
Hal ini sesuai dengan pendapat seorang psikolog,



 



Hamzah (1981: 12) bahwa “seseorang akan memperoleh
pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dilihat dari pada sesuatu yang
didengar atau dibaca”. Penerapan media pembelajaran dengan menggunakan alat
peraga khususnya mata pelajaran matematika didasari kenyataan bahwa pada mata
pelajaran matematika terdapat banyak pokok bahasan yang memerlukan alat bantu
untuk menjabarkannya, diantaranya pada materi bangun datar  Oleh sebab itu, pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga dalam pokok bahasan bangun datar tersebut dianggap
sangat tepat untuk membantu mempermudah siswa memahami materi. Disisi lain
suasana belajar akan lebih hidup, dan komunikasi antara guru dan siswa dapat
terjalin dengan baik. Hal ini diduga pula dapat membantu siswa dalam upaya
meningkatkan hasil belajarnya pada mata pelajaran matematika. Kenyataan yang
ada, penggunaan alat peraga di sekolah belum membudaya, dalam arti tidak semua
guru dalam mengajar matematika menggunakan alat peraga. Hal ini disebabkan
belum timbul kesadaran akan pentingnya penggunaan alat peraga serta pengaruhnya
dalam kegiatan proses belajar mengajar terutama tentang bangun datar



 



Berdasarkan hasil observasi di kelas III SDN 1 Cikotok
Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2015/2016, diperoleh
informasi tentang masih kurangnya perhatian dan dorongan dalam penggunaan alat
peraga walaupun alat peraga sebagian sudah tersedia akan tetapi tidak semua digunakan.
Kurangnya penggunaan alat peraga pada proses pembelajaran mata pelajaran
matematika menyebabkan rendahnya aktivitas dan hasil belajar yang diperoleh
siswa, khususnya tentang bangun datar. Sebagaimana hasil evaluasi yang dicapai
oleh siswa Kelas III SDN 1 Cikotok
Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2015/2016 dari 27 siswa hanya
sebagian  15 orang atau
56% siswa
aktif dalam pembelajaran matematika dan hasil belajar hanya 14 orang atau  56%  siswa yang mendapat nilai sesuai KKM (60).



 



Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dilakukan
penelitian tindakan kelas (PTK),  dengan
judul Upaya Meningkatkan Minat Dan
Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika Tentang Bangun Datar Melalui Penggunaan
Alat Peraga Di  Kelas III SDN 1 Cikotok
Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2015/2016
”.



 



B.           
Identifikasi Masalah



Berdasarkan latar belakang masalah dapat di identifikasi
masalah sebagai berikut:



1.            
Adanya kecenderungan siswa yang tidak mau bertanya kepada guru meskipun
belum mengerti.



2.            
Perhatian siswa tidak fokus ketika pembelajaran berlangsung.



3.            
Guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas (teacher center).



4.            
Siswa kurang aktif dan setiap diberi pertanyaan siswa tidak berani menjawabnya.



5.            
Kurangnya minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika



 



C.          
Rumusan Masalah



Berdasarkan identifikasi masalah maka rumusan masalah
pokok dalam penelitian ini adalah:



1.            
Bagaimana peningkatan aktivitas belajar matematika siswa Kelas III SDN 1 Cikotok Kecamatan Cibeber
Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2015/2016
melalui penggunaan Alat Peraga
bangun datar?.



2.            
Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika siswa Kelas III SDN 1 Cikotok Kecamatan Cibeber
Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2015/2016
melalui penggunaan alat peraga
bangun datar?



.



D.          
Tujuan Penelitian



Tujuan penelitian tindakan kelas yang hendak dicapai
melalui penggunaan alat peraga ini adalah:



1.            
Meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa Kelas III SDN 1 Cikotok Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran
2015/2016
melalui penggunaan bangun datar



2.            
Meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas III SDN 1 Cikotok Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran
2015/2016
melalui penggunaan bangun datar



 



E.           
Manfaat Penelitian



Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran diharapkan
hasilnya dapat bermanfaat antara lain sebagai berikut:



1.            
Bagi Siswa



Diharapkan siswa dapat memperoleh kemudahan dalam
mempelajari matematika dan membantu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.



 



2.            
Bagi Guru



Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam
pembelajaran matematika, guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
dengan menggunakan alat peraga.



 



3.            
Bagi Sekolah



Meningkatkan mutu sekolah dengan meningkatnya aktivitas
hasil belajar siswa sehingga menghasilkan lulusan dengan mutu yang berkualitas.


Selengkapnya silahkan kunjungi link di Bawa :

Doc View

Download Ver RAR

Contoh PTK Penelitian Tindakan Kelas IPS Kelas 6 SD Doc



BAB I



PENDAHULUAN



 



A.   
Latar
Belakang Masalah



Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu
berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap
bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan
ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap
bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik
terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang
bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.



Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang
dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan
panjang. Pendekatan kontekstual (contextual
teaching learning
/CTL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari
karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pengajaran kontekstual
menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya
‘menghidupkan’kelas secara maksimal. Kelas yang ‘hidup’ diharapkan dapat
mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang sedemikian cepat.



Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah
konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar
memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan
pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa
membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.



Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka
melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam persiapan
itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan,
metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang
digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar,
secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes
dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evalasi.



Sementara itu teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek
tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, terutama
bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan, sarana dan
prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal kalau dikaji lebih lanjut,
setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal
apalagi tingkat Sekolah Dasar, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan
anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai
calon manusia Indonesia.



Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru
senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran
struktural dalam penyampaian materi dan mudah diserap peserta didik atau siswa
berbeda.



Khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat
memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka proses pembelajaran
kontektual, guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci,
tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan
soal-soal kepada siswa.



Masalah keberhasilan dalam
pembelajaran IPS merupakan masalah yang penting sebab menyangkut masa depan
siswa, terutama siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pendekatan-pendekatan
cara belajar adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan memotivasi
siswa dalam penguasaan siswa terhadap materi kompetensi dasar tertentu. Dalam
hal ini guru dituntut bagaimana cara agar siswa dapat memahami materi dengan
baik sehing
ga prestasi siswa
dapat meningkat.



Sesuai dengan Undang-Undang
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab (Anwar Arifin:2003). Tujuan di atas dapat dicapai salah
satunya melalui proses pembelajaran IPS.



Tujuan pembelajaran IPS
menurut Kurikulum 2006 (KTSP) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut (Depdiknas, 2006:135)



1.      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan
dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;



2.      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir
logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan
keterampilan dalam kehidupan sosial;



3.      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap
nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;



4.      Memiliki kemampuan berkomunikasi,
bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal,
nasional, dan global.



Dalam mencapai Tujuan
Pembelajaran pada mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar, khususnya di SDN Pagowan
02 masih banyak mengalami kesulitan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya
nilai mata pelajaran IPS dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan. Bertitik
tolak dari hal tersebut di atas perlu pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan
yang harus dilalukan agar siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPS tidak
mengalami kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran IPS dapat tercapai dengan
baik dan hasilnya dapat memuaskan semua pihak.



Keadaan ini mendorong
peneliti untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas berjudul “Pemanfaatan
Media Pembelajaran Kartu Ateng Untuk  Meningkatkan
Prestasi Belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 Tahun Pelajaran
2011/2012”, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya
peningkatan prestasi belajar
dan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep IPS yang ditunjukkan oleh adanya peningkatan keaktifan siswa dalam
pembelajaran dan peningkatan nilai ulangan hariannya.



 



B.    
Rumusan
Masalah



Hasil refleksi awal terhadap kualitas proses dan hasil belajar siswa
mengindikasikan  berbagai  masalah yang 
dialami oleh  sebagian  besar     
siswa  yang bermuara pada   prestasi 
belajar  siswa yang masih rendah. Namun karena berbagai keterbatasan
yang ada pada penelitian maka masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian
ini  dibatasi yaitu:



Apakah
penggunaan media pembelajaran berupa Kartu Ateng dapat meningkatkan prestasi
belajar IPS pada siswa kelas VI  SDN Pagowan
02 Tahun Pelajaran 2011/2012?”



 



C.   
Tujuan Penelitian



Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02
menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng.



 



D.    Hipotesis Penelitian



Berdasarkan masalah yang diuraikan di atas maka dibuat hipotesis tindakan
sebagai berikut :



1.     
Bila menggunakan
media pembelajaran berupa Kartu Ateng
maka aktifitas siswa dalam
pembelajaran IPS pada siswa
kelas VI SDN Pagowan 02
akan semakin meningkat.



2.     
Bila menggunakan
media pembelajaran berupa Kartu Ateng
maka hasil belajar IPS pada siswa kelas VI SDN Pagowan 02 akan
semakin meningkat.



 



E.    
Manfaat
Penelitian



Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :



1.      Bagi Siswa:



    a)     Siswa lebih menyukai pelajaran IPS.



   b)     meningkatkan peran aktif dalam
pembelajaran mata pelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.



    c)     Siswa lebih mudah dalam memahami konsep-konsep IPS.



   d)     Menumbuhkan sikap kritis pada siswa.



2.      Bagi guru :



   
a)         
Memberikan
pengalaman merancang kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas dalam pembelajaran
matematika dengan menggunakan media pembelajaran berupa Kartu Ateng.



  
b)         
Meningkatkan
kemampuan guru untuk memecahkan permasalahan yang muncul dari siswa.



   
c)         
Meningkatkan
kualitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.



  
d)         
Membantu
memberikan informasi peningkatan kemampuan siswa.



   
e)         
Dapat
meningkatkan minat guru untuk melakukan tindakan kelas.



3.      Bagi sekolah penelitian tindakan
kelas ini diharapkan:



   
a)         
Meningkatkan
mutu sekolah



  
b)         
Meningkatkan
kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat



   
c)         
Mendapatkan
informasi baru tentang model pembelajaran



4.      Bagi pengembangan keilmuan, penelitian
tindakan kelas ini diharapkan dapat merupakan salah satu alternatif dalam
mengelola kegiatan pembelajaran.



F.     Definisi Operasional



     
Berikut ini diberikan penjelasan istilah-istilah yang digunakan dalam
penelitian tindakan kelas ini, antara lain :



1.      Meningkatkan adalah usaha untuk
menaikkan hasil atau nilai.



2.      Motivasi
belajar adalah merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk
dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman.
Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai suatu tujuan.



3.      Hasil belajar IPS adalah kemampuan siswa yang
ditunjukkan oleh keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan hasil nilai
ulangan hariannya.



4.      Aktifitas siswa adalah keterlibatan
siswa dalam bentuk sikap, pikiran dan perhatian yang ditunjukkan oleh kemampuan
pengerjaan tugas secara berkelompok serta mengajukan pertanyaaan kepada guru.



5.      Media pembelajaran : alat yang
digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar
tampak lebih nyata/konkret dan memudahkan siswa dalam memahami suatu konsep.



 



 



 



 



 



 



 



 



BAB II



KAJIAN PUSTAKA



 



A.    Teori Belajar



Permasalahan
yang diajukan dalam penelitian ini, terdapat masalah-masalah yang memerlukan
landasan teori saling terkait dan mendukung. Selain sebagai pedoman dalam
pemecahan masalah pokok, landasan teori juga berfungsi sebagai kerangka kerja,
yaitu untuk mengatur data dan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam
rangka melakukan uji kebenaran hipotesis yang penulis rumuskan.



Belajar adalah suatu perbuatan yang dilakukan terus
menerus sepanjang hidup manusia dan sesuatu yang harus dilakukan setiap
manusia, sehingga belajar adalah memodifikasi atau memperteguh perilaku manusia
melalui pengalaman (Witherington, 1982:11). Belajar dapat didefinisikan sebagai
suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat
pengalaman (Gagne, 1984) dalam Ratna Wilis (1989:11).



Gagne (1984) dalam Ratna Wilis (1989:12) mengemukakan, bahwa ada lima
bentuk belajar, yaitu; a) belajar responden, b) belajar kontinguitas, c)
belajar operant, d) belajar observasional, e) belajar kognitif.



Benyamin S. Bloon dkk. dalam Saifuddin Azwar (2007:8)
membagi belajar menjadi tiga bagian yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif dan
kawasan psikomotor. Aspek kognitif meliputi pula abilitas aktual, yaitu
abilitas yang telah diterjemahkan dalam bentuk performansi nyata. Performasi
nyata disebut dengan prestasi yang merupakan fungsi dari abilitas potensial dan
hasil belajar. Hampir semua ahli teori belajar, baik pengikut faham
behaviorisme maupun kognitivisme, menekankan pentingnya umpan balik berupa
nilai, guna meningkatkan belajar, (Thorndike, 1991 dalam Saifuddin Azwar,
1996:15).



Discrall (1994) dalam Haryono (2007) membagi teori
belajar ke dalam tiga kelompok besar yaitu:



1.        
Objektivisme adalah realitas aliran yang memandang
realita secara objektif. Realitas adalah pembelajar harus menginterpretasikan
ke dalam proses belajarnya dan bersifat tunggal serta terfragmentasi.
Pengetahuan dalam pandangan ini diperoleh dari pengalaman.



2.        
Interpretivisme menganggap bahwa realita merupakan
hasil konstruksi manusia.



3.        
Pragmatisme adalah menggabungkan antara objektivisme
dan interpretivisme. Realitas dipandang dapat diinterpretasikan, dinegosiasikan
dan merupakan konsus bersama. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman
maupun hasil pemikiran.



Menurut Elliot 2000, Shnell 1986, Russel 1996 dan
Molenda 2005, dalam Haryono (2007), Teori - teori belajar dikelompokkan ke
dalam 4 kelompok besar yaitu ;



1.     
Kognivisme



Kognitivisme didasarkan pada pemikiran yang terjadi di
balik tingkah laku. Perubahan tingkah laku diamati dan digunakan sebagai
indikator terhadap apa yang terjadi di dalam pembelajaran. Tokoh-tokoh yang
berperan dalam perspektif ini antara lain Piaget, Ausubel, dan Bruner.



Kognitivisme lebih menekankan pada bagaimana pembelajar
berpikir, memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Pandangan
konstruktivisme mengembangkan model mental yang dikenal sebagai memori jangka
pendek dan memori jangka panjang. Informasi-informasi baru akan disimpan di
dalam memori jangka pendek dimana dengan pelatihan yang terus menerus akan
disimpan di dalam memori jangka panjang. Pembelajar selanjutnya menggabungkan
informasi dan ketrampilan di dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan
strategi kognitif atau ketrampilan untuk memecahkan permasalahan yang lebih
komplek. Kognitivis mempunyai persepsi yang lebih luas tentang belajar
dibanding dengan behavioris, pembelajar tidak terlalu tergantung dari petunjuk
guru. Prinsip-prinsip dari perspektif kognitif ini adalah pengetahuan awal yang
dimiliki oleh siswa.



2.      Konstruktivisme



Perspektif konstruktivis beranggapan bahwa pembentukan
pengetahuan oleh pembelajar dilakukan secara aktif dan akan dihasilkan struktur
kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.



Siswa akan menjadi orang yang kritis menganalisis
sesuatu hal karena mereka berpikir, bukan meniru. Pandangan konstruktivis bahwa
manusialah yang membangun makna terhadap suatu realita. Implikasinya dalam
pembelajaran bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran
guru ke pikiran siswa. Siswa sendirilah yang aktif secara mental dalam membangun
pengetahuannya. Proses pembelajaran konstruktivis mempunyai ciri-ciri:



a.        
Belajar berarti membentuk makna, makna dibentuk dari
apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami.



b.        
Konstruksi berarti proses pembentukan yang terus
menerus.



c.        
Belajar bukan hanya mengumpulkan fakta, namun merupakan
pengembangan pikiran dengan membuat pengertian baru.



d.       
Hasil belajar tergantung pada apa yang diketahui,
tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan balikan yang dipelajari.



Henry E Garret dalam Syaiful Sagala (2005:13)
berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu
lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan
perubahan cara bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Dimyati dan Mujiono
(1994:295) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan individu untuk memperoleh
pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam
belajar, individu menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Akibat belajar tersebut maka kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor
bertambah baik.



Untuk File selengkapnya silahkan unduh link di bawah

DOWNLOAD DOC

DOC VIEW

Selasa, 30 Maret 2021






Minggu, 28 Maret 2021

Tiga Kategori Rekrutmen dalam Seleksi ASN 2021 akan Gunakan 1 Portal Registrasi

Jakarta – Humas BKN, Untuk
persiapan pelaksanaan seleksi ASN tahun 2021, Kepala BKN Bima Haria Wibisana
memastikan hanya akan digunakan satu portal pendaftaran dalam 3 (tiga) kategori
rekrutmen calon ASN, yakni Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), Sekolah Kedinasan,
dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Penggunaan satu portal
yakni portal Sistem Seleksi Calon ASN atau SSCASN akan mempermudah peserta
dalam melakukan proses pendaftaran. Untuk mendukung kelancaran proses tersebut,
BKN telah melakukan peningkatan fitur teknologi dalam SSCASN




Kepala BKN menyebutkan dengan peningkatan fitur SSCASN, peserta
seleksi ASN tidak perlu mengunggah sejumlah dokumen, seperti ijazah, Surat
Tanda Registrasi (STR), serta Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(NUPTK) pada saat melakukan pendaftaran. “Portal SSCASN akan terintegrasi dengan
data NIK di Dukcapil, data Dapodik Kemdikbud, data STR di Kementerian
Kesehatan, dan akses data ijazah dan akreditasi Perguruan Tinggi di Kementerian
Ristekdikti,” terangnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR
RI, Rabu (24/3/2021) di Gedung DPR Jakarta, bersama perwakilan Kementerian
PANRB dan Komisi ASN.



Selain
itu, Kepala BKN juga memastikan bahwa peserta seleksi ASN dapat mengakses
informasi seluruh formasi yang dibuka Pemerintah. Hal ini termasuk inovasi baru
pada portal SSCASN, karena pada seleksi sebelumnya peserta hanya dapat melihat
ketersediaan formasi satu per satu di website masing-masing Instansi. “Kini,
cukup melalui portal SSCASN, peserta dapat mengakses seluruh informasi formasi
yang dibuka Pemerintah”.



Tidak hanya itu, Kepala
BKN juga mengungkapkan akan tetap menjaga kualitas transparansi dan
akuntabilitas pelaksanaan seleksi ASN, termasuk mencegah terjadinya tindak
kecurangan atau percaloan. Untuk mengantisipasi hal itu, Kepala BKN mengatakan
tengah mempersiapkan fitur tambahan pada sistem CAT BKN, yakni 
face recognition yang diperuntukkan
untuk mengidentifikasi peserta yang melakukan ujian, sehingga dapat
meminimalkan adanya percaloan dalam pelaksanaan ujian.



Kepala BKN
menambahkan, dikarenakan situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, BKN
akan tetap menerapkan prosedur pelaksanaan ujian sesuai protokol kesehatan
dalam rekrutmen ASN tahun 2021, salah satunya dengan menghadirkan 
live score peserta melalui
Youtube BKN agar hasil ujian dapat dipantau di mana saja (tidak berkerumun di
lokasi ujian). Dalam rekrutmen ASN 2021 akan disediakan pula sarana khusus bagi
peserta positif Covid-19 sehingga tetap dapat berkesempatan mengikuti seleksi.
Terakhir Kepala BKN mengungkapkan untuk peserta seleksi di luar negeri akan
tetap dapat mengikuti ujian di kantor KBRI setempat. “Memfasilitasi peserta
ujian di luar negeri jadi pengalaman baru dalam pelaksanaan seleksi tahun 2020.
Tahun lalu BKN sudah melaksanakan ujian seleksi di 15 negara lewat kerja sama
dengan Kementerian Luar Negeri,” tutupnya. 
Des



 



Sumber : https://www.bkn.go.id/